Senin, 04 November 2013

GADIS BEKEPANG DUA
Cerpen Karya Agnia Rizqi Wardani

Hari itu, seperti biasanya. Aku pulang dari kantor pukul tujuh malam. Dengan alasan menghemat uang transport yang diberikan tiap bulannya oleh kantor, aku memutuskan untuk berjalan kaki, ya, sebenarnya jarak kantor dengan flatku tidak begitu jauh, jadi hari itu aku memutuskan untuk jalan kaki. Aku melewati sebuah perkampungan kumuh nan becek itu saat waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, waktu yang sebenarnya masih bisa dikatakan sore oleh sebagian orang. Sepatuku berusaha menghindari setiap genangan air yang menggenang di beberapa tempat berlubang. Sampai tiba-tiba aku menangkap sosok seorang gadis kecil bergaun merah sedang berjalan sendirian menuju ke arahku. Dengan rasa penasaran yang tinggi, di tengah kampung yang sangat sepi ini, mengapa ada orang tua yang tega membiarkan anak perempuannya berkeliaran sendiri di tempat yang gelap ini, aku pun mendekatinya. Mendadak langkahnya berhenti sebelum aku berhasil mengajaknya bicara.
“Adik, sedang apa kau di tempat sepi seperti ini?” sapaku sambil berusaha ramah.

Gadis Berkepang Dua
Gadis dengan rambut tipis dan berkepang dua itu bergeming. Bila kuterka, mungkin usianya masih delapan tahun. Tiba-tiba ia mendongak ke arahku, dan aku sangat terkejut saat mengetahui wajahnya yang sangat pucat.
“Di mana rumahmu, Dik? Biar kakak antar” ucapku lagi sambil meraih tangannya yang dingin. Suara sahutan jangkrik terdengar begitu nyaring dan keras di tempat yang sepi ini. Bahkan jalan raya pun kosong.
Gadis itu menatapku nanar lalu tersenyum, “tolong antarkan aku pulang..” ucapnya datar dengan senyum tipis di pipinya.
Ia menunjuk sebuah rumah tua bercagak tinggi di sebuah tikungan. Tanpa berpikir lebih jauh aku segera mengantarnya.

Keesokan harinya, aku memutuskan untuk pulang dengan jalan kaki lagi. Seorang rekan di kantor bercerita bahwa ia telah kecopetan di sebuah bis kota kemarin saat pulang kerja. Lalu saat itu pula aku bersyukur karena kemarin aku tidak jadi pulang dengannya.
Aku melewati kampung kumuh itu lagi, karena itu memang jalan pintas satu-satunya yang aku tahu selama tiga tahun aku tinggal di sini.
Saat melewati sebuah gang, aku menoleh dan mendapati gadis berkepang dua yang kemarin kuantar pulang itu, sedang duduk-duduk sendirian di teras rumahnya yang sangat luas. Kali ini ia mengenakan gaun berwarna kuning. Entah, aku juga tidak mengerti, tapi ada sesuatu dalam diriku yang membawaku untuk menghampiri gadis itu.

Saat aku sudah dekat dengannya, gadis itu mendongak, dan tiba-tiba senyumnya mengembang di wajahnya yang putih pucat.
“Kakak yang kemarin! Hai!” sapanya dengan nada yang sangat ramah.
Aku hanya tersenyum lalu duduk di sebelahnya. “Mengapa kamu tidak masuk? Di luar sangat dingin lho..” tanyaku dan tanpa sadar membelai rambut tipisnya yang lembut.
Gadis itu menggeleng lucu. “aku tidak mau masuk, Ibu sedang marah, dan aku takut..” jawabnya dengan kepolosan seorang gadis kecil.
Aku tertawa renyah. “kenapa ibumu marah? Apa kau melakukan sesuatu yang membuatnya marah?” tanyaku lagi. Entah mengapa, aku sendiri tidak tahu, rasanya, aku sangat menyayangi gadis ini. Entah mengapa, aku tidak bisa membiarkannya sendirian.
Ia menggeleng lagi. Lalu mengangkat bahu. Tapi ia tidak mengatakan apa-apa.
Lalu aku melirik arloji yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Ya, memang hari ini aku pulang agak malam, tadi pekerjaanku menumpuk, tapi itu terasa menjadi tidak penting lagi saat aku sedang bersama gadis cantik ini.

Tiba-tiba tangan mungilnya merogoh saku jasku dan mengeluarkan empat permen cokelat dari dalamnya. Aku tertawa saat ingat bahwa aku menyimpannya sudah sejak pagi. “bagaimana kau tahu??” tanyaku curiga. Gadis itu hanya menyeringai dan langsung melahapnya. “besok bawakan yang lebih banyak, ya, Kak..” pintanya manja dengan cokelat yang berantakan di tepi-tepi bibirnya. Aku membelai rambutnya lagi dan mengangguk.

Sejak hari itu, aku menjadi lebih akrab dengan gadis berkepang dua itu. Ya, aku memanggilnya dengan sebutan “si Kepang Dua”, karena dia sama sekali tidak pernah mau memberitahukan nama aslinya. Sedangkan dia memanggilku dengan sebutan “Kakak Manis”, yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan namaku, Andra. Tapi biarlah, selama dia bahagia, aku tidak akan mengusik hal-hal kecil seperti itu.
Persahabatan kami terus berlangsung selama hampir enam bulan. Terkadang, saat pagi hari sebelum aku berangkat ke kantor, aku membawakannya sebungkus roti cokelat dan susu cokelat. Harus kukatakan, bahwa ia adalah penggemar berat makanan yang berbau cokelat. Aku juga pernah membelikan sebuah boneka dalmation untuknya, dan dia sangat menyukai itu. Pada hari liburku, aku mengajaknya jalan-jalan ke taman hiburan, kebun binatang, mall, atau pun ke flatku untuk mengajaknya bermain monopoli, ular tangga, atau game online di laptopku. Dia sangat menyukai hal-hal tersebut.

Hingga pada suatu hari dia mengatakan bahwa minggu depan adalah ulang tahunnya yang ke sembilan. Aku hanya mengangguk tanda mengerti kepadanya. Tapi tiba-tiba dia memprotesku, “kenapa kakak hanya mengangguk?” ucapnya.
“kenapa kau protes? Memang, kau mau kakak membelikan apa, gadis berkepang dua?” tanyaku sambil mencubit pipi putihnya.
Lalu dia mengatakan panjang lebar apa yang dia inginkan, dia menyebutkan bahwa ia ingin sekali mempunyai sebuah buku diary bercover merah muda, tapi sebelum itu, anehnya, dia mengungkit semua hal yang selama ini telah ia lakukan denganku. Mulai dari permainan yang pernah kami mainkan, boneka dalmation yang pernah aku berikan padanya, sampai tempat-tempat yang pernah kami kunjungi bersama. Dia bilang, dia ingin jujur padaku bahwa meskipun dia menyukai semua hal itu, tapi mereka semua terasa aneh baginya.
Awalnya aku merasa bingung, karena semua itu bukan hal yang asing lagi. Tapi karena tidak ingin berpikiran aneh tentang gadis ini, akhirnya aku cukup menyimpulkan bahwa gadis berlensa kebiru-biruan ini adalah “anak rumahan”, yaitu anak yang jarang keluar rumah, jadi maklum saja kalau dia tidak tahu apa-apa tentang dunia luar, ya, kira-kira seperti itulah.
Malam itu, pukul setengah sembilan malam, aku pun pulang ke flatku dan meninggalkan gadis itu di teras. Dia mengatakan bahwa dia tidak ingin masuk sebelum melihatku menghilang di balik tikungan. Aku hanya menuruti permintaannya.
Seminggu kemudian, di kantor. Salah seorang atasan di kantor memanggilku ke ruang kerjanya. Aku menanggapi panggilan itu dan berjalan menuju ruangannya. Selama aku berjalan itu pula, aku merasa sedikit, oh bukan, tapi aku merasa benar-benar aneh dan..... asing!!

Semua mata para staff dan atasan tertuju ke arahku, dan tatapan mereka, seolah-olah mengatakan kalau aku ini adalah seorang yang gila.
“Dik Andra....” atasanku membuka percakapan dengan menyapaku.
Aku diam mengangguk. “ada apa sehingga Bapak memanggil saya?” tanyaku to the point.
Atasanku itu diam sebentar lalu berdehem. “begini, saya minta maaf sebelumnya. Tapi saya harus mengatakan bahwa ini adalah hari terakhir anda bekerja di sini.” Jawabnya to the point juga.

Aku sedikit tersentak. “ma, maksud Bapak??” tanyaku tak mengerti.
“Anda dipecat.” Jawabnya singkat.
Aku merasa seperti disetrum oleh listrik berjuta-juta volt. “tapi Pak, apa kesalahan saya sehingga saya di....” belum sempat aku membela diri, atasanku pun menyahut, “kami merasa, bahwa kau sudah sedikit tidak waras.” Jawabnya lalu keluar meninggalkanku sendirian di ruang kerjanya dengan tubuhku yang kaku. Dia tidak sedang bercanda. Dan ini bukan mimpi. Aku benar-benar dipecat dari sebuah perusahaan negara yang selama ini aku impikan.

Aku kembali ke mejaku dan membereskan segala tetek-bengek yang ada di sana. Semua pandangan masih tertuju ke arahku. Jujur saja, aku sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi. Beberapa menit yang lalu aku mencoba untuk bertanya pada atasan yang lainnya perihal alasan mengapa aku dipecat, tapi mereka hanya tersenyum kecut dan saling memandang. Aku, benar-benar tidak mengerti. Aku dibilang tidak waras? Bukankah mereka yang sebenarnya tidak waras? Harga diriku sudah tidak terjamin lagi di perusahan ini, jadi, mungkin sebaiknya aku keluar dan pergi mencari pekerjaan lain di luar sana, ya, meskipun itu tidak mudah.
“hei, kira-kira, besok apa lagi yang akan dilakukan oleh pria tidak waras itu?” tiba-tiba telingaku menangkap suara seseorang berkata demikian. Aku menoleh dan mendapati rekan dari bagian lain sedang melirikku. Aku berusaha cuek.
“mungkin besok dia akan pergi ke makam itu lagi dan bicara sendirian, seperti biasanya. Hahahaha” jawab temannya sambil tertawa sinis. Tapi aku tak mendengarnya karena saat ia berkata seperti itu, aku sudah keluar.
“SELAMAT ULANG TAHUN, GADIS BERKEPANG DUA KU YANG CANTIK!!” seruku sambil berusaha tersenyum dan menyodorkan kado yang ia minta dengan bungkus berwarna merah muda.
Gadis itu menyambutku dengan senyumannya yang sangat indah. Ia mengenakan gaun yang benar-benar anggun berwarna merah mudah juga, dengan sepatu transparan berhak sedang. Rambutnya dikepang dua seperti biasanya, tapi kali ini ia menaruh pita di pinggir kepangannya.

Kami berada di bawah pohon yang sangat besar dengan dua kursi dan satu meja kayu di sampingnya. Dia sudah menyiapkan dua gelas jus tomat dan sepotong kue di sana. Aku tetap berusaha terlihat bahagia meski dalam hatiku masih sedikit terasa janggal.
“terima kasih untuk hadiahnya..” ucapnya gembira seraya meraih kado yang aku sodorkan. Aku tersenyum dan membelai rambutnya.

Kami pun merayakan pesta kecil di pinggir perkampungan kumuh itu dengan sangat gembira. Seperti biasanya, tidak ada orang lain di sini selain kami berdua.
“terima kasih untuk segala kebaikanmu. Mungkin ini adalah terakhir kalinya kita bertemu” ucapnya di akhir acara.
Aku mengerutkan kening. “apa maksudmu?”
Dia tersenyum dan meraih tanganku lalu meremasnya. Tangannya terasa lebih dingin dari biasanya. “aku bilang, ini adalah terakhir kalinya kita bertemu. Dan setelah hari ini, aku tidak akan pernah muncul lagi di hadapanmu, dan kau pun harus segera melupakanku.” Ucapnya datar. “semua akan baik-baik saja. Kau akan kembali bekerja, aku akan membuat semua orang yang memusuhimu itu menyesal..” tambahnya.
Aku menggenggam tangannya. “mengapa kau bicara seperti itu?” tanyaku bingung.
Dia bangkit dari kursinya dan mencondongkan badannya untuk mencium pipiku. “karena, itulah takdirnya..” bisiknya lirih.

Dia berjalan menuju perkampungan kumuh itu sambil menggenggam kado dariku. Langkahnya sangat cepat, dan semakin cepat.
“hei, tunggu aku!!” teriakku. Tapi dia tidak bereaksi.
Aku berusaha mengejarnya. Tapi setelah sampai di tikungan, dia menghilang. Tubuhku langsung lunglai dan terjatuh. Aku shock, hingga tak sadarkan diri.

Sebulan kemudian, aku sedang berada di kantor untuk berkemas pulang. Ya, seminggu lalu seorang manager mendatangiku dan memohon-mohon agar aku kembali ke kantor, dia berdalih bahwa perusahaan semakin kacau sejak kepergian ahli desain sepertiku. Dan tanpa pikir panjang, aku segera menerimanya.
“Andra! Kau sudah mau pulang?” sapa seorang wanita.

Aku menoleh, Rika, sekertarisku sudah berdiri di belakangku. Dia meninggikan sebuah kotak berisi dua buah jus tomat kesukaanku sambil tersenyum.
“kau bilang kau ingin mengatakan sesuatu.. katakanlah!” ucapku sambil menyeruput jusku.
“aku ingin bertanya, tepatnya” dia menghela napas sesaat. “apa kau masih suka pergi ke makam belanda itu?” tanyanya to the point.
Mataku membesar. “hei, apa yang kau bicarakan??!!” sentakku. Apa sekertarisku ini sudah tidak waras? Aku sama sekali tidak pernah pergi ke makam belanda! Sekalipun!!

Tanpa berkata apapun dia menyodorkan beberapa lembar foto. Sepertinya aku kenal dengan orang di foto tersebut. Itu, AKU? Dalam foto itu aku sedang duduk di sebuah makam berkeramik sambil tertawa sendirian, dalam foto yang lainnya, aku sedang menyodorkan kado berwarna pink pada sebuah pohon tua di sebuah makam yang ukurannya lebih besar, ada pula aku yang sedang menaruh roti dan sekaleng susu cokelat di atas sebuah makam kecil, ada juga aku yang sedang duduk di sebuah nisan sambil memangku boneka dalmation sambil tersenyum sendirian. Mendadak, tanganku gemetaran.
“pada tahun 1834, ada sebuah keluarga Belanda yang tinggal di sebuah rumah besar di ujung tikungan. Mereka adalah seorang konglomerat yang disegani oleh masyarakat di daerahnya, dan mereka itu adalah pasangan tua yang baru dikaruniai anak pada usia 63 tahun. Pada masa itu, wilayah ini masih didominasi oleh warga negara asing, terutama rakyat Jepang.
“hingga pada suatu hari, saat anak mereka sudah berusia delapan tahun, di usia mereka yang sudah sangat renta itu, tiada hari tanpa pertengkaran. Sang ibu selalu berteriak dan mengamuk tanpa alasan sambil membanting barang-barang antik yang ada di rumah mereka yang bagaikan istana itu. Sang ayah yang seorang perokok berat pun beberapa waktu kemudian ditemukan telah menjadi mayat dalam keadaan menggantung. Hal itu membuat sang istri stres dan menyusul suaminya dengan cara menusuk perutnya dengan sebuah belati, tanpa memikirkan anaknya.

Sang anak menjadi gelandangan, dan hak waris kekayaan itu telah berhasil direbut dengan mudahnya oleh tetangga-tetangga mereka yang haus harta. Pada ulang tahun anak mereka yang ke sembilan, sang anak mengepang rambutnya menjadi dua dan mengikatnya dengan pita, ia mengenakan gaun pinknya yang tersisa satu-satunya itu untuk mengenang orang tuanya di bawah sebuah pohon beringin di sudut tempat tinggal mereka. Konon, gadis cantik itu tidak pernah mempunyai teman, maka itu, ia sangat menginginkan sebuah benda yang dapat ia jadikan pelipur laranya. Ia pun menyobek bagian bawah gaunnya yang ia tulisi dengan cairan merah, yaitu darahnya sendiri bahwa ia ingin pergi ke masa depan dan mempunyai teman, paling lama, enam bulan, sampai hari ulang tahunnya datang lagi. Dua jam setelah itu, ia pun menyusul kedua orang tuanya dengan cara mencekik lehernya dengan pita rambutnya. Dan jasadnya, diabadikan oleh warga dengan predikat “gadis malang tak berkawan. Ohya, sebelum gadis itu benar-benar meninggal, ada seorang yang mendengar bahwa gadis itu berkata lirih ‘the fate, is not fair!’ di tengah keadaan kritisnya.”

Rika mengakhiri cerita itu dengan wajah yang basah dengan air mata. Aku membisu. Tubuhku bergetar, dan mulutku terasa kaku. Tanpa sadar, tubuhku terhuyung, dan aku tidak lagi terjaga. Samar-samar aku mendengar suara Rika berteriak panik. Tapi suara itu segera menghilang.
Gelap. Tempat apa ini? Di mana aku? Mengapa tempat ini hampa dan sepi?
Seorang gadis berkepang dua dan bergaun merah muda mendekatiku, dengan tubuhnya yang melayang. Ia tersenyum.


DMCA Protection on: http://www.lokerseni.web.id/2013/09/cerpen-horor-gadis-berkepang-dua.html#ixzz2jjmRCzQx

Tidak ada komentar:

Posting Komentar